### Kabupaten Jombang Tegaskan Peran Sejarah dan Keagamaan di Jawa Timur
JOMBANG, JATIM – Kabupaten Jombang memperingati hari jadinya setiap tanggal 21 Oktober. Berdasarkan sejarah administrasi, Jombang resmi ditetapkan sebagai kabupaten yang berdiri sendiri pada 21 Oktober 1910, setelah sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Mojokerto.
Pemisahan administratif tersebut merupakan tindak lanjut usulan sejak tahun 1870-an yang kemudian disetujui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada 1881, Jombang mulai dipersiapkan sebagai daerah baru di bawah pimpinan Raden Pandji Tjondro Winoto sebagai Patih. Bupati pertama Kabupaten Jombang adalah Raden Adipati Arya Soeroadiningrat, yang dikenal dengan sebutan "Kanjeng Sepuh".
#### Rekam Jejak Sejarah Panjang
Wilayah Jombang telah dihuni sejak masa prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas. Pada masa Kerajaan Medang, wilayah ini tercatat dalam Prasasti Poh Rinting dan Prasasti Tengaran tahun 933 M sebagai daerah perdikan untuk pemeliharaan bangunan suci.
Memasuki era Kerajaan Majapahit, Jombang menjadi bagian dari wilayah kekuasaan. Peninggalan berupa gapura gaya Majapahit masih dapat ditemukan di Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, dan Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.
Asal-usul nama "Jombang" memiliki dua versi. Versi pertama berasal dari legenda pertarungan Kebo Kicak dan Surontanu yang menyebabkan air kolam berubah menjadi hijau dan merah. Versi kedua menyebut kata "Jombang" berasal dari "jublangan abang" yang ditemukan Buyut Sarmi saat membuka lahan pemukiman.
#### Pusat Pergerakan dan Pendidikan Islam
Pada masa pergerakan nasional, Jombang memiliki peran strategis dalam menentang kolonialisme. Sejumlah tokoh nasional lahir dari wilayah ini, di antaranya KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan mantan Ketua Masyumi, serta KH Wahid Hasyim, anggota BPUPKI termuda dan Menteri Agama Republik Indonesia pertama.
Jombang juga dikenal sebagai basis Nahdlatul Ulama. Organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut didirikan di Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1926 oleh KH Hasyim Asy'ari. Sejumlah tokoh lain seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdurrahman Wahid, dan Hj. Mundjidah Wahab, bupati perempuan pertama Jombang, juga merupakan keturunan dari garis Joko Tingkir.
#### Status Hukum dan Perkembangan Wilayah
Status Kabupaten Jombang diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur.
Pasca kemerdekaan, wilayah administrasi Jombang mengalami beberapa kali pemekaran. Pada tahun 1982 dibentuk tiga kecamatan baru: Jogoroto, Bandarkedungmulyo, dan Megaluh. Kemudian pada 2001 ditambah Kecamatan Ngusikan hasil pemekaran dari Kecamatan Kudu.
Hingga saat ini, Jombang tetap dikenal sebagai "Kota Santri" sekaligus daerah dengan tingkat toleransi tinggi, tempat bertemunya berbagai budaya Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa.